Indonesia, tanah air yang kaya akan sastra dan budaya, telah melahirkan tokoh-tokoh penting di bidang kesusastraan. Salah satu sosok yang tak dapat dipandang sebelah mata dalam sejarah sastra Indonesia adalah Hans Bague Jassin, atau yang lebih dikenal sebagai H.B. Jassin. Ia bukan hanya seorang kritikus sastra ulung tetapi juga pelopor dalam dokumentasi sastra Indonesia. Artikel ini akan mengulas secara mendalam perjalanan hidup dan kontribusi besar H.B. Jassin dalam mengangkat derajat sastra Indonesia.
Keahlian dan Pengakuan
Tidak bisa dipungkiri bahwa H.B. Jassin adalah figur tanpa tanding dalam bidang kritik sastra. Julukan “Paus Sastra Indonesia” yang diberikan oleh Cayus Siagian dan gelar “Wali Penjaga Sastra Indonesia” dari Prof. A.A. Teeuw adalah bukti nyata pengakuan atas keahlian dan kontribusi Jassin. Konsistensinya diuji dalam berbagai situasi sulit, terutama pada masa politik yang penuh gejolak di Indonesia.
Pada dekade 60-an, H.B. Jassin terlibat dalam peristiwa kontroversial seputar Manifes Kebudayaan, yang membuatnya dikecam oleh kelompok Lekra dan berujung pada kehilangan jabatan. Namun, Jassin tidak membiarkan politik menghambat dedikasinya pada sastra. Meskipun dipecat dari beberapa posisinya, ia tetap setia pada panggilannya sebagai penjaga sastra.
Peran sebagai Dokumentator Sastra
Keunikan H.B. Jassin terletak pada perannya sebagai pelopor dokumentasi sastra Indonesia. Melalui kariernya sebagai redaktur di berbagai majalah sastra, seperti Poedjangga Baroe, Balai Pustaka, Pandji Poestaka, dan lainnya, Jassin tidak hanya menjadi pengamat tajam tapi juga penjaga sejarah perkembangan sastra Indonesia. Pengumpulan dokumen pribadi selama 40 tahun, termasuk 30 ribu buku dan majalah sastra, menandakan dedikasinya pada pelestarian warisan sastra Indonesia.
Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin di TIM, Jakarta, menjadi saksi bisu atas ketelitian Jassin dalam merawat karya-karya sastra. Koleksinya yang lengkap membuatnya menjadi pionir dalam upaya melestarikan warisan sastra Indonesia, yang kini menjadi pengetahuan berharga bagi generasi mendatang.
Kritikus Sastra yang Menginspirasi
H.B. Jassin tidak hanya terkenal sebagai dokumentator sastra tetapi juga sebagai kritikus yang mampu memberikan pandangan edukatif dan apresiatif. Kritiknya bersifat lebih ke arah kepekaan dan perasaan, tidak sekadar mengandalkan teori ilmiah sastra. Buku monumentalnya, “Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai” yang terbit pada tahun 1967, adalah karya terbesarnya sebagai kritikus sastra.
Jassin juga terlibat dalam penerjemahan karya sastra, seperti Max Havelaar pada tahun 1972. Keberanian dan integritasnya terlihat saat ia ditahan dan diadili karena memuat cerpen kontroversial yang dianggap menghina Nabi Muhammad. Meskipun dihukum, kesaksian Hamka akhirnya membebaskan Jassin, menegaskan kembali reputasinya sebagai pejuang kebebasan berekspresi.
Penutup
Dalam merangkai artikel ini, kita telah menjelajahi kehidupan dan kontribusi luar biasa H.B. Jassin dalam dunia sastra Indonesia. Dedikasinya sebagai kritikus, dokumentator, dan pejuang kebebasan berekspresi telah menjadikannya anugerah tiada terhingga bagi dunia sastra Indonesia. Artikel tambahan: Dewi Sartika Pelopor Pemberdayaan Perempuan
Saran untuk pembaca adalah untuk terus menghargai dan mempelajari karya-karya sastra Indonesia yang telah dicatat dengan teliti oleh H.B. Jassin. Penghargaan kepada sosok ini bukan hanya sebagai figur sejarah tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi generasi muda yang tertarik dalam dunia sastra. Semoga perjalanan hidup H.B. Jassin terus menginspirasi dan mencerahkan perjalanan sastra Indonesia ke depan.
H.B. JASSIN: Kritikus Sastra dan Pelopor Dokumentasi Sastra Indonesia